Dalam pandangan Islam, jiwa atau nafsu manusia tidak berada dalam satu kondisi yang statis. Ia bergerak dinamis, terkadang turun ke tingkat yang paling rendah, namun di lain waktu bisa melesat menuju kesucian.
Para ulama tafsir berdasarkan petunjuk Al-Qur’an membagi tingkatan nafsu dalam diri manusia ke dalam tiga jenis utama: Nafsu Amarah, Nafsu Lawwamah, dan Nafsu Muthmainnah. Berikut adalah rinciannya:
1. Nafsu Amarah (Nafsu yang Mendorong pada Keburukan)
Nafsu Amarah (An-Nafsu al-Ammarah bis-Su’) adalah tingkatan nafsu yang paling rendah dan berbahaya. Sifat dasar nafsu ini adalah selalu tunduk pada syahwat, ego, dan bisikan setan, serta terus-menerus memerintahkan pemiliknya untuk melakukan dosa dan kemaksiatan.
Allah berfirman:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, menjelaskan watak asli dari nafsu ini:
أَنَّ النَّفْسَ طَبْعُهَا تَأْمُرُ بِالسُّوءِ وَتَقْتَضِيهِ بِمُجَرَّدِهَا، إِلَّا أَنْ يَعْصِمَهَا اللَّهُ وَيُوَفِّقَهَا
“Bahwasanya nafsu itu secara tabiat dasarnya selalu memerintahkan dan menuntut kepada keburukan semata-mata, kecuali jika Allah menjaga dan memberikan taufik-Nya (kepada hamba tersebut).”
2. Nafsu Lawwamah (Nafsu yang Banyak Mencela: Bisa Positif dan Negatif)
Berbeda dengan level nafsu lainnya, Nafsu Lawwamah memiliki karakteristik yang sangat dinamis dan bermata dua. Secara kebahasaan, kata اللوامة (Al-Lawwamah) adalah bentuk shighat mubalaghah (penyangatan) dari kata laaimah, yang artinya jiwa yang sangat banyak mencela. Karena sifatnya yang terus mencela dan tidak konsisten, nafsu ini bisa mengarah kepada dua sisi: Lawwamah yang Positif (Terpuji) atau Lawwamah yang Negatif (Tercela).
Allah berfirman:
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Dan Aku bersumpah demi nafsu yang amat menyesali/mencela (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2)
Ulama pakar tazkiyatun nafs, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Al-Ruh, menjelaskan dengan sangat indah dinamika positif dan negatif dari nafsu ini:
وَكُلُّ نَفْسٍ لَوَّامَةٌ، فَالنَّفْسُ السَّعِيدَةُ تَلُومُ عَلَى فِعْلِ الشَّرِّ وَتَرْكِ الْخَيْرِ فَتُبَادِرُ إِلَى التَّوْبَةِ، وَالنَّفْسُ الشَّقِيَّةُ بِالضِّدِّ مِنْ ذَلِكَ
“Setiap jiwa itu pasti banyak mencela (lawwamah). Jiwa yang bahagia (positif) akan mencela dirinya atas perbuatan buruk yang dilakukannya dan atas kebaikan yang ditinggalkannya, lalu ia bersegera bertaubat. Sebaliknya, jiwa yang sengsara (negatif) adalah kebalikan dari hal itu.”
Melalui penjelasan ini, kita bisa memahami bahwa:
- Sisi Positifnya: Nafsu ini mencela diri sendiri karena tidak jadi atau kurang maksimal dalam melakukan kebaikan, serta mencela diri ketika tergelincir berbuat dosa agar bisa segera bertaubat.
- Sisi Negatifnya: Nafsu ini justru mencela diri sendiri karena tidak jadi melakukan keburukan, menyesal karena melewatkan kesempatan maksiat, atau menyesal karena gagal meluapkan amarahnya.
3. Nafsu Muthmainnah (Nafsu yang Tenang dan Diridhai)
Nafsu Muthmainnah adalah tingkatan tertinggi dan paling mulia. Jiwa pada level ini telah mencapai puncak ketenangan karena selalu mengingat Allah (dzikrullah), tunduk pada syariat, bersih dari keraguan, serta ridha atas segala takdir-Nya.
Allah berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (ridha) lagi diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28)
Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan esensi dari ketenangan jiwa ini:
هِيَ السَّاكِنَةُ الْمُوقِنَةُ الَّتِي أَقَرَّتْ بِأَنَّ اللَّهَ رَبُّهَا، وَانْقَادَتْ لِأَمْرِهِ، وَأَيْقَنَتْ بِلِقَائِهِ
“Ia adalah jiwa yang tenang dan penuh keyakinan yang telah mengikrarkan bahwa Allah adalah Tuhannya, patuh sepenuhnya kepada perintah-Nya, serta yakin akan hari pertemuan dengan-Nya.”
Kesimpulan
Setiap manusia memiliki potensi ketiga nafsu ini di dalam dirinya. Tugas kita sebagai seorang Muslim adalah memerangi Nafsu Amarah agar tidak menguasai akal, mengarahkan Nafsu Lawwamah ke arah yang positif agar fungsi evaluasi diri dan alarm pertobatan kita tetap hidup, hingga akhirnya kita mampu mencapai tingkat tertinggi, yaitu Nafsu Muthmainnah yang kelak akan dipanggil oleh Allah dengan penuh kasih sayang di akhirat.

Komentar