Pernahkah kita merenung sejenak dalam keheningan hidup kita? Seandainya kita berada di posisi Rasulullah ﷺ ketika Allah memberikan pilihan-pilihan besar, pilihan apa yang akan kita ambil?
Dalam keseharian, kita sering kali didera kebingungan saat harus memilih. Memilih antara dunia atau agama, memilih antara keuntungan materi atau kejujuran, serta memilih antara menuruti hawa nafsu atau tunduk pada ketaatan. Namun, ada satu manusia agung yang setiap kali dihadapkan pada pilihan, beliau selalu mengambil apa yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sepanjang hidupnya, Rasulullah ﷺ melewati tiga momentum pilihan besar yang menjadi cermin sekaligus pelajaran bagi kita dalam memandang hakikat dunia.
Pilihan Pertama: Memilih Fitrah yang Suci di Malam Isra’ Mi’raj
Pilihan pertama terjadi pada malam yang sangat bersejarah, malam Isra’ Mi’raj. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ diperlihatkan dua buah gelas yang berisi minuman berbeda. Satu gelas berisi khamr (minuman keras) dan satu gelas lainnya berisi susu. Beliau memandang keduanya dengan tenang, tidak tergesa-gesa, lalu tangan mulianya meraih segelas air susu.
Melihat pilihan tersebut, Malaikat Jibril berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ، لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ
“Segala puji bagi Allah yang telah membimbingmu kepada fitrah. Seandainya engkau memilih khamr, niscaya umatmu akan tersesat.” (HR. Bukhari No. 4709)
Mengapa susu? Karena susu adalah simbol kesucian dan makanan pertama yang Allah karuniakan kepada setiap manusia ketika baru hadir di dunia. Seorang bayi yang belum mengenal nama ayahnya atau rupa rumahnya, sudah disediakan air susu oleh Allah untuk kelangsungan hidupnya.
Melalui pilihan ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk selalu hidup di atas fitrah yang bersih. Beliau tidak memilih khamr yang memabukkan, karena beliau datang bukan untuk membius manusia dengan keindahan dunia yang menipu, melainkan untuk membangunkan hati manusia agar kembali kepada Allah.
Hari ini, kita pun setiap saat dihadapkan pada dua gelas kehidupan: hawa nafsu atau petunjuk Allah, dunia atau akhirat.
Allah berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّىٰهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّىٰهَا
“Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 8-10)
Pilihan Kedua: Memilih Menjadi Hamba, Bukan Raja yang Bergelimang Kuasa
Pilihan kedua adalah sebuah tawaran yang mungkin sulit ditolak oleh manusia biasa. Suatu hari, Malaikat Jibril duduk bersama Nabi ﷺ. Tiba-tiba sebuah pintu langit terbuka dan turunlah sesosok malaikat yang belum pernah turun sejak hari pertama dia diciptakan.
Malaikat itu membawa pesan dari Allah dan berkata, “Wahai Muhammad, Rabbmu mengutusku kepadamu. Apakah Engkau ingin dijadikan sebagai seorang Nabi sekaligus Raja, ataukah seorang Hamba sekaligus Rasul?”
Mendengar tawaran kekuasaan tersebut, Jibril memberi isyarat kepada Nabi ﷺ:
تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ
“Wahai Muhammad, rendahkanlah dirimu di hadapan Rabbmu.”
Tanpa ada keraguan sedikit pun, Rasulullah ﷺ menjawab:
بَلْ عَبْداً رَسُولاً
“Tidak. Aku memilih menjadi seorang hamba dan rasul.” (HR. Ahmad No. 7160)
Beliau tidak memilih empuknya kursi kekuasaan, mahkota, istana, atau takhta, padahal semua itu sepenuhnya halal bagi beliau. Beliau memilih menjadi hamba karena kemuliaan sejati bukan terletak pada tingginya jabatan, melainkan pada ketundukan seorang hamba di hadapan Penciptanya.
Bukti pilihan ini terlihat dari kesederhanaan rumah beliau. Suatu hari, Umar bin Khattab masuk menemui Rasulullah ﷺ yang sedang berbaring di atas tikar kasar hingga anyamannya membekas di kulit beliau. Umar menangis melihat pemandangan tersebut dan membandingkannya dengan kemewahan para raja dunia seperti Kisra dan Kaisar.
Namun Rasulullah ﷺ dengan tenang menghibur Umar:
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُون لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ
“Tidakkah engkau rida bila dunia menjadi milik mereka, sedangkan akhirat menjadi milik kita?” (HR. Bukhari No. 4913)
Pilihan Ketiga: Memilih Perjumpaan dengan Allah di Akhir Hayat
Menjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ mengajak seorang sahabat bernama Abu Muwaihibah berjalan menuju pemakaman Baqi’ di tengah sunyinya malam. Setelah mendoakan para penghuni kubur, Rasulullah ﷺ menoleh kepada sahabatnya dan menyampaikan pilihan terakhir yang paling menggetarkan hati:
إِنِّي قَدْ أُوتِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الدُّنْيَا وَالْخُلْدَ فِيهَا ثُمَّ الْجَنَّةَ، فَخُيِّرْتُ بَيْنَ ذَلِكَ وَبَيْنَ لِقَاءِ رَبِّي وَالْجَنَّةِ
“Aku akan diberi kunci-kunci seluruh perbendaharaan dunia, umur panjang (kekal) di dalamnya, baru kemudian surga. Lalu aku diberi pilihan antara semua itu atau bertemu dengan Rabbku dan surga.”
Spontan, karena rasa cinta yang begitu besar dan tidak ingin kehilangan sang pelita hidup, Abu Muwaihibah berkata, “Atas nama ayah dan ibuku, wahai Rasulullah… ambillah kunci-kunci perbendaharaan dunia itu, hiduplah kekal di dalamnya, baru kemudian masuk surga.”
Bukankah itu pula yang akan kita katakan jika berada di sana? Ketika orang yang kita cintai terbaring sakit, doa yang paling sering kita panjatkan adalah meminta agar umurnya dipanjangkan. Kita selalu membayangkan posisi kita sebagai orang yang ditinggalkan, padahal bisa jadi justru kitalah yang lebih dahulu dipanggil pulang oleh Allah.
Mendengar permintaan sahabatnya, Rasulullah ﷺ menjawab dengan ketegasan iman yang luar biasa:
لَا وَاللَّهِ يَا أَبَا مُوَيْهِبَةَ، لَقَدْ اخْتَرْتُ لِقَاءَ رَبِّي وَالْجَنَّةَ
“Tidak, demi Allah wahai Abu Muwaihibah… Aku lebih memilih bertemu dengan Rabbku dan meraih surga.” (HR. Ahmad No. 15998)
Tiga pilihan besar di atas menunjukkan secara benderang kepada kita bahwa bagi Rasulullah ﷺ, dunia ini bukanlah tempat untuk menetap dan mengejar puncak kebahagiaan. Dunia hanyalah ruang tunggu singkat.
Setiap kali diberi pilihan, beliau selalu memilih Allah, memilih fitrah, memilih menjadi hamba, dan pada detik-detik akhirnya, beliau memilih untuk segera pulang berjumpa dengan Zat yang paling beliau cintai.
Suatu hari nanti, giliran kitalah yang harus mengucapkan salam perpisahan kepada dunia ini. Kita akan meninggalkan rumah yang kita bangun dengan susah payah, harta yang kita kumpulkan, serta anak dan pasangan yang selama ini kita peluk erat. Semoga ketika waktu pulang itu tiba, hati kita telah dipenuhi keimanan sehingga kita siap menyambut panggilan Allah dengan jiwa yang tenang, karena kita tahu perpisahan di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan perjumpaan dengan Allah dan reuni bersama orang-orang beriman di surga adalah kebahagiaan yang abadi.

Komentar