• Selamat Datang di Situs Resmi Abu Hudzaifah

Berapa Kali Sangkakala Ditiup?

Berapa Kali Sangkakala Ditiup?
Bagikan

Setiap muslim dan muslimah wajib mengimani tiupan sangkakala pada hari kiamat. Peristiwa ini merupakan peristiwa mengerikan dan menakutkan yang pertama kali terjadi saat itu. Terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai berapa kali sangkakala ditiup pada hari tersebut.
Dalam hal ini ada dua pendapat:

Pendapat Pertama : Sangkakala Ditiup Sebanyak Tiga Kali
Pendapat ini dianut oleh Ibnul ‘Arabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Asy-Syaukani.
Tiupan pertama, nafkhotul faza’, menyebabkan kekagetan dan perubahan alam dunia.
Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml : 87)

Tiupan kedua, nafkhotush sha’qi, menyebabkan kematian seluruh makhluk.
Allah Ta’ala berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah…” (QS. Az-Zumar : 68)

Tiupan ketiga, nafkhotul ba’tsi wan nusyuur, membuat seluruh makhluk bangkit.
Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ…

… Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar : 68)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.” (QS. Yasin : 51)

Pendapat Kedua : Sangkakala Ditiup Sebanyak Dua Kali
Pendapat ini dipegang oleh Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Al-Qurthubi, dan Ibnu Hajar.

Tiupan pertama, nafkhotul faza’ wa ash-sha’qi, menyebabkan terkejutnya makhluk dan kematian mereka.
Tiupan kedua, nafkhotul ba’tsi wan nusyuur, membuat seluruh makhluk bangkit.
Allah Ta’ala firman,

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

“(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan ke dua.” (QS. An-Nazi’at: 6-7)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata dalam tafsir juz ammanya ketika menafsirkan ayat ini :
Ada dua tiupan sangkakala (pada hari kiamat). Tiupan pertama: akan menggocangkan dan mengagetkan manusia kemudian mereka akan mati sampai manusia yang terakhir kecuali yang Allah kehendaki tetap hidup. Tiupan kedua: Mereka akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka, manusia akan bangkit seluruhnya dalam satu waktu.
Terdapat juga hadits Abdullah bin ‘Amr dan hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa manusia mati setelah tiupan pertama dan bangkit setelah tiupan kedua. Jarak antara dua tiupan disebutkan sebagai empat puluh, tetapi detail apakah empat puluh hari, bulan, ataukah tahun tidak dijelaskan, dan beberapa ulama tidak ingin berspekulasi mengenai hal tersebut.

Dua hadits tersebut adalah :

Dalam sebuah hadits yang panjang dari Abdullah bin ‘Amr di dalamnya disebutkan:


ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ، فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا، قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ، قَالَ فَيَصْعَقُ، وَيَصْعَقُ النَّاسُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ – أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللهُ – مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوِ الظِّلُّ – نُعْمَانُ الشَّاكُّ – فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى، فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Kemudian sangkakala ditiup maka tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan akan memiringkan dan mengangkat lehernya.” Beliau bersabda, “Orang pertama kali mendengarnya adalah seseorang yang tengah memperbaiki tempat minuman untuk untanya.” Beliau bersabda, “Ia mati dan semua orang pun mati. Setelah itu Allah mengirim -atau bersabda, Menurunkan- hujan seperti hujan rintik-rintik kemudian tubuh manusia bermunculan, ‘Lalu ditiuplah sangkakala itu sekali lagi (tiupan kedua) Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hasil keputusan untuk mereka).” (HR. Muslim).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ» قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ

Jarak antara kedua tiupan selama empat puluh.” Para sahabat bertanya,”Wahai Abu Hurairah, empat puluh harikah?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan (menjelaskan).” Mereka bertanya lagi,”Empat puluh bulankah?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan (menjelaskan).” Mereka bertanya lagi,”Empat puluh tahunkah?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan (menjelaskan).” (HR. Bukhari)

SebelumnyaNabi Yusya' bin Nun Murid Setia Nabi MusaSesudahnyaTernyata Umroh itu Wajib
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan